Bersepeda Bersama Yesus

Filed under: by: Pelayan Tuhan

Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar- Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.

Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.

Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah.


Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi … biasanya, hal itu tak berlangsung lama.
Tetapi saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya! Terkadang rasanya seperti sesuatu yang 'gila', tetapi Ia berkata, 'Ayo, kayuh terus pedalnya!'

Kadang Aku takut, khawatir dan bertanya, 'Aku mau dibawa ke mana?'
Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan. Dan ketika aku berkata, 'AKU TAKUT !' Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.

Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan…
orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan … perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.

Kemudian, Yesus berkata, 'Berikan hadah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya; Jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita.' Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.

Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya.
Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan.

Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh... menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia : Yesus Kristus.

Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan,
Yesus akan tersenyum dan berkata… 'Mengayuhlah terus, Aku bersamamu.'

sumber : unknown


Sepeda tandem...
Ya... Hidup kita bagaikan sepeda tandem dimana kita melalui hidup kita di dunia ini bersama-sama dengan TUHAN. TUHAN selalu bersama-sama dengan kita, menyertai kita dalam setiap jalan yang kita tempuh..

Tetapi... pernahkah kita berpikir... Kalau TUHAN selalu menyertai semua orang, mengapa banyak sekali dari antara kita yang jatuh dalam dosa? Mengapa banyak sekali dari antara kita menempuh jalan yang salah, jalan yang membawa kepada kehancuran?

Teman....
Seringkali kita mengemudikan sepeda kita sendiri tanpa mau dibimbing oleh TUHAN.
Seringkali kita megayuh sepeda kita sendiri tanpa mau tau apa yang TUHAN mau atas kita. Bahkan, seringkali kita memaksakan jalan yang kita inginkan, jalan yang kita anggap enak, jalan yang kita anggap menyenangkan kepada TUHAN.

Mungkin jalan yang kita pilih sendiri itu tampak menyenangkan pada awalnya. Tapi, kita tidak tau apa yang menanti kita di ujung jalan itu. Maut? Musibah? Kehancuran?

Teman....
TUHAN itu Maha Tau. DIA tau jalan mana yang terbaik buat kita. DIA tau apa yang akan menanti di ujung sebuah jalan. Oleh karena itu, jalan pilihan NYA pasti merupakan jalan yang terbaik untuk kita karena DIA begitu mengasihi kita anak-anakNYA.
Biarkan TUHAN yang memegang kemudi atas hidup kita. Berserah lah sepenuh nya kepada NYA dalam menempuh hidup ini.

Mungkin kita sering merasa jalan yang TUHAN pilih ini berat.
Kita sering merasa bahwa jalan yang TUHAN pilih ini mustahil untuk dijalani.
Kita sering merasa takut untuk menjalani jalan yang TUHAN pilih.
Tetapi percayalah... DIA tidak pernah membawa kita ke jalan yang tidak mampu kita lalui.
Percayalah... DIA akan selalu menyertai kita dalam kondisi apapun juga. DIA tidak pernah meninggalkan kita sedetik pun.
Bahkan dia menggenggam tangan kita disaat kita merasa sangat ketakutan.
DIA selalu menyertai kita...


Bagaimana cara kita melalui jalan yang berat ini???
Kayuhlah sepeda dengan segenap tenaga, sambil tetap berserah kepada pimpinan dari TUHAN.
Juga... kita harus bersyukur atas apapun juga yang kita alami selama perjalanan.... Rasakan dingin nya angin yang menerpa wajah kita... Nikmatilah pemadangan-pemandangan yang ada selama perjalanan kita.

Dengarkanlah sapaan-sapaan ramah dari orang-orang yang ada di sekitar kita selama perjalanan... Terimalah hadiah-hadiah yang mereka berikan. Kita senang diberi hadiah bukan???
Tapi tidak lupa juga kita harus memberikan hadiah-hadiah yang kita terima kepada orang-orang di sekitar kita.
Lihatlah wajah-wajah yang senang saat menerima pemberian dari kita...
Lihatlah senyuman yang tulus yang terukir di wajah mereka saat menerima hadiah dari kita...

Itu semua dapat menjadi penghiburan bagi kita selama kita menempuh perjalanan kita sehingga perjalanan yang kita tempuh bisa terasa lebih ringan, terasa lebih nikmat untuk dilalui....


KAYUHLAH TERUS SEPEDAMU BERSAMA TUHAN...
GBU....

Push Up

Filed under: by: Pelayan Tuhan

Ada seorang profesor mata kuliah Religi yang bernama Dr. Christianson yang mengajar di sebuah perguruan tinggi kecil di bagian barat Amerika Serikat. Dr. Christianson mengajar kekristenan di perguruan tinggi ini dan setiap siswa semester pertama diwajibkan untuk mengikuti kelas ini. Sekalipun Dr. Christianson berusaha keras menyampaikan intisari Injil kepada kelasnya, ia menemukan bahwa kebanyakan siswanya memandang materi yang diajarnya sebagai suatu kegiatan yang membosankan. Meskipun ia sudah berusaha sebaik mungkin, kebanyakan siswa menolak untuk menanggapi kekristenan secara serius.

Tahun ini, Dr. Christianson mempunyai seorang siswa yang spesial yang bernama, Steve. Steve belajar dengan tujuan untuk melanjutkan studinya ke seminari dan mau masuk ke dalam pelayanan. Steve seorang yang populer, ia disukai banyak orang, dan seorang atlet yang memiliki fisik yang prima dan ia merupakan siswa terbaik di kelas profesor itu.

Suatu hari, Dr Christianson meminta Steve untuk tidak langsung pulang setelah kuliah karena ia mau berbicara kepadanya. "Berapa push up yang bisa kamu lakukan?" Steve menjawab, "Saya melakukan sekitar 200 setiap malam." "200? Lumayan itu, Steve," Dr. Christianson melanjutkan. "Apakah kamu dapat melakukan 300?" Steve menjawab, "Saya tidak tahu. Saya tidak pernah melakukan 300 sekaligus." "Apakah kamu pikir kamu dapat melakukannya?" tanya Dr. Christianson. "Ok, saya bisa coba," jawab Steve.

"Saya mempunyai satu proyek di kelas dan saya memerlukan kamu untuk melakukan 10 push up setiap kali, tapi sebanyak 30 kali, jadi totalnya 300. Dapatkah kamu melakukannya?" tanya sang profesor. Steve menjawab, "Baiklah, saya pikir saya bisa. Ok, saya akan melakukannya." Dr. Christianson berkata, "Bagus sekali! Saya memerlukan Anda untuk melakukannya Jumat ini." Dr. Christianson menjelaskan kepada Steve apa yang ia rencanakan untuk kelas mereka pada Jumat itu.

Pada hari Jumat, Steve datang awal ke kelas dan duduk di bagian depan kelas. Saat kelas bermula, sang profesor mengeluarkan satu kotak besar donut. Bukan donut yang biasa tetapi yang besar dan yang punya krim di tengah-tengah. Setiap orang sangat bersemangat karena kelas itu merupakan kelas terakhir pada hari itu dan mereka bisa menikmati akhir pekan mereka setelah pesta di kelas Dr. Christianson.

Dr. Christianson pergi ke baris pertama dan bertanya, "Cynthia, apakah kamu mau salah satu dari donut ini?" Cynthia menjawab, "Ya". Dr. Christianson lalu berpaling kepada Steve, "Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Cynthia bisa mendapatkan donut ini?" "Tentu saja!" Steve lalu melompat ke lantai dan dengan cepat melakukan 10 push up. Lalu Steve kembali ke tempat duduknya. Dr. Christianson meletakkan satu donut di meja Cynthia.

Dr. Christianson lalu pergi ke siswa berikutnya, dan bertanya, "Joe, apakah kamu mau satu donut?" Joe berkata, "Ya." Dr. Christianson bertanya, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Joe bisa mendapatkan donutnya?"

Steve melakukan 10 push up, dan Joe mendapatkan donutnya. Begitulah selanjutnya, di baris yang pertama. Steve melakukan 10 push up untuk setiap orang sebelum mereka mendapatkan donut mereka. Di baris yang kedua, Dr. Christianson berhadapan dengan Scott. Scott seorang pemain basket, dan fisiknya sekuat Steve. Ia juga seorang yang sangat populer dan punya banyak teman wanita.

Saat profesor bertanya, "Scott, apakah kamu mau donut?" Jawaban Scott adalah, "Baiklah, bisakah saya melakukan push up saya sendiri?" Dr. Christianson berkata, "Tidak, Steve harus melakukannya." Lalu Scott berkata, "Kalau begitu, saya tidak mau donutnya." Dr. Christianson mengangkat bahunya dan berpaling kepada Steve dan meminta, "Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Scott bisa mendapatkan donut yang tidak ia kehendaki?" Dengan ketaatan yang sempurna Steven mulai melakukan 10 push up. Scott berteriak, "Hei! Saya sudah berkata, saya tidak menginginkannya!" Dr. Christianson berkata, "Lihat di sini! Ini kelas saya dan semuanya ini donut saya. Biarkan saja di atas meja jika kamu tidak menginginkannya." Ia lalu menempatkan satu donut di atas meja Scott.

Di waktu ini, Steve sudah mulai melakukan push up dengan agak perlahan. Ia hanya duduk di lantai saja karena terlalu capek untuk kembali ke tempat duduknya. Ia mulai berkeringat. Dr. Christianson mulai di baris ketiga. Para siswa sudah mulai merasa marah. Dr. Christianson bertanya kepada Jenny, "Jenny, apakah kamu menginginkan donut ini?" Dengan tegas Jenny menjawab, "Tidak." Lalu Dr. Christianson bertanya pada Steve, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up lagi agar Jenny bisa mendapatkan donut yang tidak ia mau?"

Steve melakukan 10 push up dan Jenny mendapatkan satu donut. Ruang sudah mulai dipenuhi oleh rasa tidak nyaman. Para siswa sudah mulai berkata, "Tidak!" dan semua donut dibiarkan di atas meja tanpa ada yang memakannya. Steve sudah kelelahan dan harus berusaha keras untuk tetap terus melakukan push up untuk setiap donut itu. Lantai tempat ia melakukan push up sudah dibasahi keringatnya dan lengannya sudah mulai kemerahan. Dr. Christianson bertanya kepada Robert, seorang ateis yang paling lantang suaranya kalau berdebat di kelas, apakah ia mau membantu untuk memastikan bahwa Steve tidak curang dan tetap melakukan 10 push up untuk setiap donut karena dia sendiri sudah tidak sanggup melihat Steve melakukan push up-nya.

Dr. Christianson sudah sampai ke baris ke-empat sekarang. Dan beberapa siswa dari kelas yang lain yang sudah bergabung di kelas itu dan mereka duduk di tangga. Saat profesor menghitung kembali, ternyata ada 34 siswa sekarang di kelas. Ia mulai khawatir apakah Steve dapat melakukannya. Dr. Christianson melanjutkan dari satu siswa ke siswa yang selanjutnya sampai ke akhir baris itu. Dan Steve sudah mulai bergumul. Ia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan push up-nya. Steve bertanya kepada Dr. Christianson, "Apakah hidung saya harus menyentuh lantai untuk setiap push up yang saya lakukan?" Dr. Christianson berpikir sejenak dan berkata, "Semuanya ini push up kamu. Kamu yang pegang kendali. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau." Dan Dr. Christianson melanjutkan ke siswa yang selanjutnya.

Beberapa saat kemudian, Jason, seorang siswa dari kelas lain dengan santai mau masuk ke kelas, dan sebelum ia melangkahi masuk, seluruh kelas berteriak serentak, "Jangan! Jangan masuk! Kamu berdiri di luar saja!" Jason kaget karena ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Steve mengangkat kepalanya dan berkata, "Tidak, biarkan dia masuk."

Profesor Christianson berkata, "Kamu sadar bahwa jika Jason masuk, kamu harus melakukan 10 push up untuk dia?"

Steve berkata, "Ya, biarkan dia masuk. Berikan donut kepadanya." Dr. Christianson berkata, "Ok, Steve. Jason, kamu mau donut?" Jason yang baru masuk ke kelas dan tidak tahu apa-apa menjawab, "Ya, tentu saja, berikan saya donut."

Steve melakukan 10 push up dengan sangat perlahan dan bersusah payah. Jason yang kebingungan diberikan satu donut. Dr. Christianson sudah selesai dengan baris ke-empat dan mulai ke tempat siswa-siswa dari kelas lain yang duduk di tangga.

Tangan Steve sudah mulai gemetaran dan ia harus bergumul untuk mengangkat dirinya melawan tarikan gravitasi. Di waktu ini, keringatnya bercucuran, dan tidak kedengaran apa-apa kecuali bunyi nafasnya yang kencang. Mata setiap orang di kelas itu mulai basah. Dua siswa terakhir adalah dua siswa perempuan yang sangat populer, Linda dan Susan.

Dr. Christianson pergi ke Linda, "Linda, apakah kamu mau donut?" Linda dengan sedih berkata, "Tidak, terima kasih." Profesor Christianson dengan perlahan bertanya, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Linda bisa mendapatkan donut yang tidak ia mau?" Dengan pergumulan yang berat, Steve dengan perlahan melakukan push-up untuk Linda. Lalu Dr Christianson berpaling kepada siswa yang terakhir, Susan. "Susan, kamu mau donut ini?" Susan dengan air mata yang berlinangan di pipinya mulai menangis. "Dr. Christianson, mengapa saya tidak boleh membantunya?"

Dr. Christianson, dengan mata yang berkaca-kaca berkata, "Tidak, Steve harus melakukannya sendiri, saya telah memberinya tugas itu dan ia bertanggungjawab untuk memastikan setiap orang mempunyai kesempatan untuk mendapat donut itu, tidak kira apakah mereka menginginkannya atau tidak. Hanya Steve seorang saja yang mempunyai nilai yang sempurna. Setiap orang telah gagal dalam ujian mereka, mereka entah bolos kelas atau memberikan saya tugas yang di bawah standar. Steve memberitahu saya di latihan football, saat seorang pemain buat salah, ia harus buat push up. Saya memberitahu Steve bahwa tidak seorang pun dari kalian yang boleh datang ke pesta saya kecuali jika Steve mau membayar harga dengan melakukan push up bagi kalian. Steve dan saya telah membuat perjanjian demi kalian semua."

"Steve, maukah kamu membuat 10 push up supaya Susan bisa mendapatkan donut?" Steve dengan sangat perlahan melakukan 10 push up yang terakhirnya. Ia tahu ia sudah menyelesaikan semua yang harus dia lakukan. Secara total, Steve telah melakukan 350 push up, tangannya tidak tahan lagi dan ia jatuh tersungkur ke lantai. Dr. Christianson lalu berpaling ke kelas dan berkata, "Dan, demikianlah, Juruselamat kita, Yesus Kristus, di atas kayu salib, ia telah melakukan semua yang dibutuhkan olehnya. Ia menyerahkan semuanya. Dan seperti mereka yang ada di ruangan ini, banyak di antara kita yang membiarkan hadiah itu begitu saja di atas meja, sama sekali tidak kita jamah."

Dua siswa mengangkat Steve dari lantai untuk duduk di kursi, walaupun sangat lelah secara fisik, Steve tersenyum bahagia. "Engkau sudah berbuat dengan baik, hambaku yang baik dan setia," kata profesor dan ia menambahkan, "Tidak semua khotbah disampaikan dengan kata-kata." Berpaling kepada kelas, profesor berkata, "Harapan saya adalah kalian dapat memahami dan sepenuhnya mengerti akan semua kekayaan kasih karunia dan rahmat yang telah diberikan kepada kalian lewat pengorbanan Yesus Kristus. Allah tidak menyayangkan putra satu-satunya, tetapi menyerahkan dia untuk kita semua. Apakah kita memilih untuk menerima menolak karunia-Nya, harganya sudah lunas dibayar."

"Apakah kita akan menjadi orang yang bodoh dan yang tidak bersyukur dengan meninggalkan hadiah itu di atas meja?"

Sumber : unknown


Mahakarya Sang Pelukis

Filed under: by: Pelayan Tuhan

Alkisah....

Ada seorang pelukis ingin menghasilkan sebuah mahakarya.... Untuk itu... dia pergi ke suatu tempat yang tinggi dan sunyi untuk menyendiri dan berpuasa 40 hari lamanya untuk mencari inspirasi untuk mahakaryanya tersebut... Selama 39 hari dia benar bermeditasi, bermati raga...

Pada hari ke 40, setelah dia memperoleh inspirasi, dia mulai melukis.... Dengan perlahan tapi pasti, dia mulai menyapukan kuas nya di atas kanvas... Sedikit demi sedikit lukisan itu terbentuk... Dengan segenap upaya dan kemampuannya, dia melukis...

Akhirnya... lukisan itu selesai.... Lukisan itu memang sangat indah... Dia sangat bangga dan puas melihat mahakarya nya yang indah itu...

Dilihatnya lukisan itu dari dekat.... "ooh... indahnya lukisan ini"

Dia mundur beberapa langkah... dilihat nya lagi lukisan itu... "dilihat dari jauh tetap saja indah"

Dia mundur lagi dan mundur lagi untuk melihat lukisannya dari kejauhan sambil mengagumi keindahan lukisannya tersebut. Tanpa ia sadari, karena perhatiannya tertuju pada lukisannya itu, ia sudah berada di bibir jurang. Selangkah lagi dia mundur, dia akan jatuh ke jurang.


Kebetulan, sahabat dari pelukis itu juga pergi ke tempat itu. Ia melihat sang pelukis sudah berada di bibir jurang.
Melihat temannya dalam bahaya, dia tidak teriak memperingatkan sang pelukis itu, karena kalau kaget, sang pelukis bisa jatuh ke jurang.
Yang dia lakukan adalah berlari secepat mungkin ke lukisan dan mencoret-coret lukisan yang indah itu.
Melihat lukisannya dicoret-coret oleh sahabatnya, sambil marah-marah ia berlari ke arah sahabatnya itu. Sang pelukis tidak jadi jatuh ke jurang karena lukisannya di coret-coret oleh sahabatnya itu.

Sumber : Unknown


Teman....
Dalam hidup, kita pasti ingin hidup sukses. Entah itu sukses dalam karir, dalam studi, dalam kehidupan keluarga, dll. Akan tetapi, seringkali kita juga mengalami apa yang dialami sang pelukis itu. Apa yang kita sudah perbuat dengan segenap usaha kita... Apa yang sudah kita bangun bertahun-tahun, dengan segenap daya dan upaya kita, hancur dalam sekejap.

Saat kita mengalami hal itu, apa yang kita rasakan? apa yang kita lakukan?
Seringkali kita seperti pelukis itu bukan? Seringkali kita marah-marah akan kondisi yang kita alami.
Seringkali kita menyalahkan rekan kita... teman-teman kita... saudara kita.... orang tua kita... bahkan kita marah pada TUHAN atas musibah yang kita alami.
Seringkali kita marah pada TUHAN, "TUHAN... Aku rajin berdoa... Aku rajin baca firman Mu... Aku rajin ke gereja... Aku rajin pelayanan... Dalam hidup juga aku selalu mengikuti perintahMU. Aku sudah berusaha dengan segenap tenagaku... aku bekerja dengan jujur... aku ngga melanggar perintah Mu... tapi kenapa TUHAN, KAU hancurkan jerih payahku? kenapa KAU hancurkan hidupku?"


Teman....
TUHAN YESUS itu ALLAH yang sangat baik.....
TUHAN sangat senang melihat kita anak-anakNYA hidup bahagia.
TUHAN sangat senang melihat kita anak-anakNYA sukses.

Akan tetapi, pernahkah kita berpikir bahwa seringkali kesuksesan kita itu justru akan membawa kita kepada jurang yang dalam?

Saat kita kaya (sukses dalam karir), mungkin kita menjadi sombong... hidup kita berubah menjadi hidup berfoya-foya. Kita terlalu sibuk bekerja sampai sampai lupa berdoa ataupun ke gereja. Bahkan mungkin kita menghina karir orang lain yang tidak sesukses karir kita....

Atau saat kita menjadi pelajar yang pintar, kita menjadi sombong... kita tidak mau mengajari teman kita yang kurang mampu. Kita cuma mau berteman dengan teman-teman yang memiliki kemampuan yang sama....

Apakah hidup seperti itu bisa dibilang sukses???
Mungkin YA untuk saat itu.. Tapi seperti apa yang dialami pelukis itu... perlahan-lahan tapi pasti... kesuksesan kita itu membawa kita ke jurang maut...

Saat itu terjadi, TUHAN tidak akan membiarkan kita jatuh ke dalam jurang maut itu, karena DIA sangatlah mencintai kita. Olehkarena itu, DIA mencoret-coret lukisan kita.
Dia menghancurkan apa yang kita banggakan itu, supaya kita menjauh dari jurang maut yang telah menanti kita.
Dengan mencoret-coret lukisan kita, DIA mau menyadarkan kita bahwa kita sudah berada di jalan yang salah, dan DIA mau kita kembali kepada jalan NYA

Teman...
mungkin saat kita mengalami hal itu, kita hanya melihat kehancuran kita. Kita tidak dapat melihat hal baik apa yang kita dapatkan dari musibah itu.
Saat kita mengalami itu, ingatlah bahwa TUHAN YESUS adalah ALLAH yang Mahakasih dan Mahatau... DIA memiliki rencana yang sangat indah dan sempurna untuk hidup kita.

Mungkin kita tidak merasakan indahnya rencana TUHAN saat itu juga. Akan tetapi... percayalah pada NYA.... teruslah berserah kepada NYA. Janganlah menyerah terhadap kondisi sesulit apapun. Karena pada saatnya nanti, kita PASTI akan merasakan bahwa rencana TUHAN itu rencana yang paling indah... jauh melebihi segala sesuatu yang paling indah yang kita usahakan/rencanakan.

Salam.

Besarnya Penghargaan

Filed under: by: Pelayan Tuhan

BESARNYA PENGHARGAAN

Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya. Ia sangat terkejut melihat seekor anjing datang ke samping tokonya. Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing itu kembali lagi. Maka, ia menghampiri anjing itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu. Ia mengambil catatan itu dan membacanya, "Tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada di mulut anjing ini."

Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar di sana . Segera ia mengambil uang itu, kemudian ia memasukkan sosis dan kaki domba ke dalam kantung plastik dan diletakkan kembali di mulut anjing itu.

Si penjual daging sangat terkesan. Kebetulan saat itu adalah waktu tutup tokonya, ia menutup tokonya dan berjalan mengikuti si anjing..

Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan dan sampai ke tempat penyeberangan jalan. Anjing itu meletakkan kantung plastiknya, melompat dan menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu dengan sabar dengan kantung plastik di mulut, sambil menunggu lampu penyeberang berwarna hijau. Setelah lampu menjadi hijau, ia menyeberang sementara si penjual daging mengikutinya.. Anjing tsb kemudian sampai ke perhentian bus, dan mulai melihat "Papan informasi jam perjalanan ".

Si penjual daging terkagum-kagum melihatnya. Si anjing melihat "Papan informasi jam perjalanan " dan kemudian duduk disalah satu bangku yang disediakan. Sebuah bus datang, si anjing menghampirinya dan melihat nomor bus dan kemudian kembali ke tempat duduknya. Bus lain datang. Sekali lagi bus lainnya datang. Sekali lagi si anjing menghampiri dan melihat nomor busnya. Setelah melihat bahwa bus tersebut adalah bus yang benar, si anjing naik. Si penjual daging, dengan kekagumannya mengikuti anjing itu dan naik ke bus tersebut. Bus berjalan meninggalkan kota , menuju ke pinggiran kota . Si anjing Melihat pemandangan sekitar. Akhirnya ia bangun dan bergerak ke depan bus, ia berdiri dengan 2 kakinya dan menekan tombol agar bus berhenti.. Kemudian ia keluar, kantung plastik masih tergantung di mulutnya.

Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan sambil dikuti si penjual daging. Si anjing berhenti pada suatu rumah, ia berjalan menyusuri jalan kecil dan meletakkan kantung plastik pada salah satu anak tangga. Kemudian, ia mundur, berlari dan membenturkan dirinya ke pintu. Ia mundur, dan kembali membenturkan dirinya ke pintu rumah tsb. Tidak ada jawaban dari dalam rumah, jadi si anjing kembali melalui jalan kecil, melompati tembok kecil dan berjalan sepanjang batas kebun tersebut. Ia menghampiri jendela dan membenturkan kepalanya beberapa kali, berjalan mundur, melompat balik dan menunggu di pintu.

Si penjual daging melihat seorang pria tinggi besar membuka pintu dan mulai menyiksa anjing tersebut, menendangnya, memukulinya, serta menyumpahinya.

Si penjual daging berlari untuk menghentikan pria tersebut, "Apa yang kau lakukan ..? Anjing ini adalah anjing yg jenius. Ia bisa masuk televisi untuk kejeniusannya."

Pria itu menjawab, "Kau katakan anjing ini pintar ...? Dalam minggu ini sudah dua kali anjing bodoh ini lupa membawa kuncinya ..!"

Mungkin hal serupa pernah terjadi dalam kehidupan Anda. Sesuatu yang bagi Anda kurang memuaskan, mungkin adalah sesuatu yang sangat luar biasa bagi orang lain. Yang membedakan hanyalah seberapa besar penghargaan kita. Pemilik anjing tidak menghargai kemampuan si anjing dan hanya terfokus pada kesalahannya semata, sehingga menganggapnya anjing yang bodoh. Sebaliknya, sang pemilik toko menganggap anjing tersebut luar biasa pintarnya karena mampu berbelanja sendirian.

Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa setiap harinya kita menghadapi pilihan yang sama. Kita punya dua pilihan dalam menghadapi hidup ini, apakah hendak mengeluh atas berbagai hal yang kurang memuaskan, atau bersyukur atas berbagai karunia yang telah kita terima. Semuanya terpulang pada diri Anda sendiri. Tetapi jangan lupa mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah.

Tuhan telah mengkaruniai Anda dengan 86.400 detik per hari. Sudah adakah yang Anda gunakan untuk mengucap syukur?

Tuhan memberkati


Sumber : unknown